Dari Cerpen Hingga Perlawanan Pers: Jejak Leres Budi Santoso

Sebagai salah satu seniman dan wartawan yang gigih di Surabaya, Leres Budi Santoso memulai perjalanan keseniannya sejak tahun 1986 di sanggar Bengkel Muda Surabaya dan Kelompok Seni Rupa Bermain. Lahir di Surabaya pada 25 Februari 1969, ia tidak hanya dikenal sebagai wartawan, tetapi juga sebagai penulis serbabisa yang produktif, melahirkan puisi, cerpen, dan cerita anak dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Suroboyoan.

Prestasinya di dunia sastra sudah terlihat sejak awal kariernya. Pada tahun 1990, cerpennya yang berjudul “Dialog Malam” berhasil meraih juara III dalam lomba cerpen Dewan Kesenian Surabaya. Dekade berikutnya, ia kembali menorehkan prestasi gemilang dengan meraih juara I dalam sayembara penulisan cerpen tabloid Nyata tahun 1997 melalui karyanya “Toh di Pipi Bunda.” Dedikasinya juga diakui secara nasional ketika ia diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam "Mimbar Penyair Abad 21" pada tahun 1996.

Namun, Leres Budi Santoso bukan hanya seorang sastrawan, ia juga seorang wartawan yang berani. Ia aktif dalam kepanitiaan peringatan 100 hari pembredelan Majalah TEMPO pada 1 Oktober 1994, sebuah momen krusial yang menguji kebebasan pers di Indonesia. Leres, bersama rekan-rekan seniman dan wartawan, mengorganisir acara “Malam Seni Luar Biasa” di Surabaya Press Club. Dalam acara yang diawasi ketat oleh intel militer ini, ia bahkan sempat "disandera" untuk menjamin kelancaran acara. Keberaniannya terbayar tuntas, acara tersebut sukses menjadi wadah perlawanan artistik terhadap pembredelan, menampilkan berbagai seniman ternama, termasuk orasi dari Peter Apollonius Rohi dan puisi-puisi kritis yang dibacakan oleh WS Rendra.

Selain kesibukannya sebagai wartawan di berbagai media seperti HU Karya Darma dan Jawa Pos TV, Leres juga mengelola production house dan majalah di bawah naungan pemerintah provinsi Jawa Timur. Meskipun demikian, ia tidak pernah berhenti berkarya. Ia masih aktif menulis cerpen, puisi, dan esai. Kisah "Sego Tabok'an," salah satu cerpennya yang terinspirasi dari fenomena kuliner khas Sidoarjo, menjadi bukti bahwa ia mampu menemukan inspirasi dari kehidupan sehari-hari. Cerpen ini juga sempat dibacakan di Dapoer Mawar Surabaya pada tahun 2021, membuktikan bahwa karyanya terus relevan dan diapresiasi. Leres Budi Santoso kini tinggal di Sidoarjo dan terus berkarya, membuktikan bahwa jiwa seni dan semangat juang seorang wartawan dapat terus hidup dan menginspirasi.

Sumber: Ensiklopedia Sastra Jawa Timur, kompasiana.com, diolah
Foto    :  leresbudisantoso.blogspot.com

Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur