Mantra dalam Upacara Adat Ganti Langse

Setiap tanggal 15 Sura, masyarakat Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi menggelar tradisi Ganti Langse. Warga dari berbagai dusun berkumpul untuk mempersiapkan pelaksanaan ritual mengganti kain penutup pada punden (langse). Upacara adat ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari kekuatan gaib penghuni punden dan dari Yang Mahakuasa.
Rangkaian kegiatan biasanya dimulai jauh sebelum prosesi utama berlangsung. Para tokoh desa, juru kunci, serta sejumlah wakil warga berkumpul untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan ini, mereka menentukan hari pelaksanaan, siapa yang bertugas membawa kain baru, siapa yang mengurus sesaji, dan bagaimana alur kegiatan akan dijalankan. Musyawarah ini sering dimaknai sebagai sarana menyatukan hati, pikiran, dan maksud baik seluruh peserta sehingga ritual dapat berjalan dengan selaras.
Ketika waktu yang disepakati tiba, warga menuju Pesanggrahan Agung Srigati di kawasan Hutan Ketangga. Tempat ini sejak lama diperlakukan sebagai ruang keramat dan dijaga keberadaannya oleh masyarakat. Di lokasi inilah perlengkapan upacara dan sesaji disusun. Perlengkapan yang disusun melipuiti sekar telon, kinangan, rokok Jawa, wedang kopi pahit/manis, teh pahit/manis, panggang buceng, sesisir (setangkep) pisang. Ada juga kelengkapan wilujengan yang terdiri atas ambeng ingkung, sega golong, pisang, dan bermacam-macam bubur yang meliputi bubur merah-putih, bubur tolak sengkala, dan bubur sawa.
Setelah semuanya siap, prosesi utama dimulai. Kain penutup yang baru dibawa oleh seorang pemandu dan disampaikan kepada kepala desa. Kepala desa menyampaikan kain tersebut kepada istrinya. Selanjutnya, kain diberikan kepada juru kunci untuk dipasang ke punden. Sementara itu, kain lama yang sudah dilepas tidak dibuang begitu saja. Biasanya, kain tersebut dipotong-potong dan diberikan kepada warga yang menghadiri upacara adat. Banyak dari mereka membawa pulang kain itu dengan harapan memperoleh keberkahan, perlindungan, atau sebagai bentuk kenangan karena telah turut menghadiri ritual tersebut.
Ketika membagikan potongan kain, juru kunci melantunkan mantra. Dalam pelafalannya terdapat harapan agar kehidupan masyarakat tetap tenteram, segala marabahaya dijauhkan, serta hubungan batin dengan leluhur tetap terjaga. Doa menjadi ruang refleksi, saat setiap orang menundukkan kepala, menata kembali batin masing-masing, dan memberikan waktu bagi dirinya untuk menyampaikan keinginan yang terdalam.
Nyuwun pangapunten ngersaning Gusti lan para leluhur ingkang kula bekteni, dosa ingkang kula sengaja lan mboten kula sengaja kula nyuwun pangapunten. Sak para kadang ingkang nindakaken. Lan langse kula suwun daya kasiatipun kangge putra wayah ingkang sami ngginakaken.
Sepindhah kagem keslametan jiwa raga, bale wisma supados slamet ayem tentrem. Sageta rejeki lumintu ugi pinaringan putra wayah ingkang drajad ingkang luhur lan utama ingkang kuat imanipun dadosa putra ingkang wicaksana, bekti dhumateng tiyang sepuhlan bekti dhumateng nagari.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Ganti Langse menjadi ruang bertemu bagi masyarakat, sekaligus media untuk menjaga hubungan antara manusia, lingkungan, dan warisan leluhur. Dalam prosesi ini, tersimpan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, serta pemeliharaan spiritual yang terus diwariskan lintas generasi. Tradisi ini menegaskan bahwa perubahan zaman tidak menghapus laku budaya, selama masyarakat masih menanamkan makna di dalamnya.

Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur