Mantra Pelet dalam Tradisi Lisan Jawa Timur
Dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Timur, mantra menempati posisi yang sakral. Mantra bukan sekadar susunan kata-kata indah berirama, melainkan sebuah bentuk komunikasi yang mengandung kekuatan magis. Mantra biasanya diucapkan dalam bentuk puisi atau kalimat bernuansa ritmis, dan diyakini hanya dapat diamalkan oleh orang-orang tertentu, terutama mereka yang bergelut dalam dunia supranatural seperti dukun. Seorang dukun memiliki dua cara dalam menjalankan praktik spiritualnya, yaitu dengan merapal mantra secara langsung kepada seseorang tau dengan memberikan mantra untuk diamalkan sendiri oleh seseorang di tempat tertentu, seperti rumah, tempat sepi, atau lokasi yang dianggap keramat.
Salah satu jenis mantra yang sering digunakan dalam praktik dukun di Jawa Timur adalah mantra pelet, yaitu mantra yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta, rindu, atau ketertarikan dari seseorang terhadap si pengamal. Menariknya, terdapat mantra-mantra pelet yang memang dikhususkan bagi perempuan, seperti contoh berikut:
“Sun asatek ngelmune Parto, gebyar wahyaning cahya tama, welas tumanduk ing salira, asih tumanduk ing wong sak buwana.” (Sri Rahayu, 2018: 44)
Artinya:
“Aku menyerap Parto, bersinar pancaran cahaya dalam kegelapan, kasih mengalir dalam diri, cinta menjalar ke seluruh umat manusia di dunia.”
Mantra ini diyakini hanya akan memberikan efek apabila diucapkan oleh dukun kepada perempuan. Artinya, kekuatan magis dari mantra tersebut tidak hanya bergantung pada isi kalimatnya, tetapi juga pada siapa yang mengucapkannya dan kepada siapa mantra itu ditujukan. Dalam pandangan masyarakat Jawa Timur, khususnya Kediri, Surabaya, Malang, dan sekitarnya, mantra menjadi alat komunikasi spiritual dan menjadi jembatan antara dunia manusia dan alam gaib atau makhluk supranatural.
Mantra dipercaya mampu mengakses kekuatan yang tersembunyi, suatu bentuk energi yang berada di luar jangkauan logika manusia biasa. Kekuatan mantra juga sangat terkait dengan bahasa yang digunakan. Sebagian besar mantra menggunakan bahasa Jawa Kuno atau campuran dengan bahasa Sanskerta, sebuah bahasa yang sudah tidak dipahami oleh masyarakat umum. Hal ini menambah aura mistis dan kesan eksklusif pada mantra, seolah hanya dapat dipahami dan diakses oleh mereka yang memiliki ilmu khusus.
Salah satu contoh mantra pelet yang populer dan banyak ditemui di daerah-daerah seperti Kediri, Surabaya, Malang, dan sekitarnya adalah:
Sun atek ajiku Raden Panji
Gebyar-gebyar ana cahya saka wetan
Madhangi badan ingsang
Ingsung putrane Mbok Randa Dhadhapan
Kang sun sedya mara dhewe
Ingsun kekasihe wong sabuwana (Sri Rahayu, 2018: 46)
Artinya:
Memohon restu dan kekuatan dari ajian Raden Panji
Sinar terang yang bersinar megah dari arah selatan
Menyelimuti tubuhku dengan cahaya energi
Aku adalah keturunan dari Randa Dhadhapan
Seseorang yang dengan tulus mencintai dan menyayangiku
Aku ditakdirkan menjadi kekasih yang dicintai oleh semua orang di dunia
Sebagai warisan budaya lisan, mantra pelet mencerminkan betapa eratnya hubungan masyarakat dengan alam spiritual dan dunia tak kasatmata. Kepercayaan terhadap kekuatan kata-kata, terutama yang dirangkai dalam bentuk puisi dan penuh irama, menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar memaknai bahasa sebagai alat komunikasi biasa, melainkan sebagai sarana untuk menjangkau kekuatan yang lebih tinggi, bahkan yang bersifat ilahiah atau supranatural.
Sumber:
Rahayu, Sri. (2018). “Mantra Pelet Masyarakat Jawa Timur: Tinjauan Linguistik Antropologi”. Metalingua: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(1), diunduh pada Kamis, 3 Juli 2025. https://journal.trunojoyo.ac.id/metalingua/article/view/7033.