Resensi Buku Kelenjar Laut karya D.Zawawi Imron

Dalam kumpulan puisinya yang berjudul Kelenjar Laut, D. Zawawi Imron mengajak pembaca untuk menepi sejenak dari kebisingan dunia. Tema utama dalam Kelenjar Laut adalah hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Alam dicitrakan sebagai jembatan untuk memahami Tuhan, dan manusia adalah pengembara di antaranya. Lewat puisi-puisinya, D. Zawawi Imron memperdengarkan suara batin, suara iman, dan suara alam. Kelenjar Laut tidak menawarkan bahasa yang penuh metafora ataupun berbagai permainan bahasa, tetapi puisi-puisi di dalamnya bisa menyentuh relung hati pembaca. Puisi-puisinya membuat pembaca ikut menyelami samudera spiritualitas yang kental dengan aroma pesisir.   

Relasi antara manusia dan alam menjadi poros penting dalam buku ini. D. Zawawi Imron menggunakan metafora alam (laut, hutan, bintang, hingga cumi-cumi) untuk menggambarkan kerendahhatian manusia. Laut, pantai, teluk, hutan, dan sungai hadir bukan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai subjek yang hidup dan bermakna. Puisi “Teluk Tomini” dan “Pantai Bira” memperlihatkan bagaimana lanskap geografis dibaca sebagai ruang perenungan. Alam menyimpan bisik-bisik doa, ingatan, dan harapan. Laut dalam puisi Zawawi Imron bukan wilayah romantik semata, tetapi menjadi ruang etis, tempat manusia belajar tentang tanggung jawab, kerja, dan keterbatasannya sendiri di hadapan semesta.

Salah satu kekuatan utama dalam buku ini adalah bagaimana D. Zawawi Imron membawa konsep religiusitas ke dalam hal-hal yang sangat duniawi. Puisi-puisi seperti “Kelenjar Pagi,” “Kelenjar Sunyi,” dan “Kelenjar Rahasia” menegaskan kecenderungan D. Zawawi Imron untuk memandang tubuh manusia sebagai ruang spiritual. Kelenjar sebagai bagian dari organ tubuh manusia dimaknai sebagai ruang batin, tempat doa, zikir, dan kegelisahan manusia berdiam. Misalnya, dalam “Kelenjar Sunyi”, iman tidak dipertontonkan sebagai slogan atau spanduk, melainkan sebagai laku hening yang menolak hiruk-pikuk simbolik. Sunyi justru menjadi ruang paling jujur bagi perjumpaan manusia dengan Tuhannya.

Puisi “Nyanyian Tobat” menjadi contoh kuat bagaimana bahasa doa tidak dilepaskan dari realitas tubuh dan dunia. Tobat tidak hadir sebagai peristiwa metafisik yang steril, melainkan bergumul dengan dosa, hasrat, dan rasa malu. Zikir, istigfar, dan syukur tidak terpisah dari karang, ikan, hutan, dan lumpur. Inilah sufisme khas Zawawi Imron, spiritualitas yang tidak melarikan diri dari dunia, tetapi justru meneguhkan tanggung jawab manusia di dalamnya.

Sementara itu, puisi seperti “Sampah” dan “Sejarah” menghadirkan nada kritik sosial yang halus tetapi tetap tajam. Zawawi Imron tidak berteriak, tetapi menyindir dengan lirih. Puisi “Sampah” membongkar kemunafikan moral dan jarak sosial dengan metafora yang sederhana tetapi menusuk, sedangkan “Sejarah” mempersoalkan kekerasan, ingatan kolektif, dan bagaimana kebenaran sering kali dicatat secara timpang. Kritik ini tidak berdiri di luar kerangka spiritual, melainkan justru lahir dari kesadaran etis yang religius.

Secara keseluruhan, Kelenjar Laut adalah buku puisi yang mengajak pembaca melambat. Ia menuntut kesediaan untuk mendengar hal-hal yang tidak terucap, memperhatikan yang tersembunyi, dan merawat sunyi sebagai bagian dari kehidupan modern yang semakin bising. Kekuatan buku ini terletak pada konsistensi nada, kejernihan sikap, dan kematangan spiritual penyairnya. Bagi pembaca yang mencari puisi-puisi reflektif dengan kedalaman iman dan kepekaan sosial, Kelenjar Laut menawarkan pengalaman membaca yang hening, jujur, dan menenteramkan, seperti laut yang tidak selalu bergelora, tetapi selalu menyimpan rahasia.

Sumber: Imron, Z. (2022). Kelenjar Laut (Kumpulan Puisi). DIVA Press: Yogyakarta.   

Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur