Resensi Buku Kumpulan Puisi Dark Truth dan Kubur Surrealisme Karya Mashuri
“ketika hidup tak lebih dari parade luka
kita masih bisa menimang dunia dengan kepala tegak
meski kita bertaruh lewat jejak purba, berparas retak
siapa tahu harta karun itu setia menunggu di halte waktu”
Kumpulan puisi Dark Truth dan Kubur Surrealisme menghadirkan sebuah lanskap imajinasi yang liar, absurd, sekaligus menyayat hati. Sejak lembar awal, buku ini tidak mengajak pembaca untuk sekadar menikmati keindahan kata, melainkan menyeret kita masuk ke dalam sebuah "parade luka" dan perayaan eksistensial yang ganjil.
Buku ini bergerak di antara dua kutub yang tarik-menarik: realitas yang gelap (Dark Truth) dan kematian nalar yang dikuburkan dalam imaji-imaji mimpi (Kubur Surrealisme). Di dalamnya, kesunyian penyair dipadukan dengan ingar bingar budaya pop. Penulis menyisipkan kutipan lirik-lirik Queen, Dream Theater, hingga Led Zeppelin di sela-sela sajak, seolah ingin menggambarkan bahwa kegelisahan manusia modern tak ubahnya seperti sebuah lagu rock yang tak kunjung usai.
Dalam kumpulan ini, metafora dihadirkan dengan cara yang tidak lazim. "Waktu" digambarkan bisa "meleleh seperti es krim di bawah matahari musim panas" , dan matahari itu sendiri bisa "menyaru telor dadar atau mata sapi" dalam sarapan pagi yang penuh sepi. Diksi yang digunakan melompat lincah antara nuansa sakral dan profan; mempertemukan "wirid karburator" dengan "dzikir pendingin", menciptakan suasana religiusitas jalanan yang kasar tetapi jujur.
Struktur puisi dalam buku ini terasa seperti montase film surrealis. Ada semangat "dunia ketiga" yang kental, di mana tokoh "aku" memosisikan diri sebagai "wisatawan" yang memandang dunia dengan "netra berkarat". Ia berbicara tentang keterasingan manusia pascakolonial yang "bergasing di antara anjing", berdiri di tapal batas antara sejarah yang luka dan masa depan yang absurd. Tokoh "aku" dalam puisi-puisi ini kerap merasa dikutuk sebagai Sisipus, mendorong batu beban kehidupan, tetapi tetap mencoba merayakan hidup itu sendiri.
Pada bagian-bagian tertentu, seperti dalam puisi "February Rain" dan "Kubur Surrealisme", nada suara berubah menjadi lebih intim dan melankolis. Ada kerinduan yang "mengangkut kenangan serenta pedati abad silam", menggambarkan bahwa di balik referensi musik cadas, tersimpan nuansa yang rapuh dan kesepian. Buku ini secara konsisten membangun suasana "gelap" dan "dingin" yang digambarkan bukan sekadar cuaca, melainkan kondisi batin.
Secara keseluruhan, Dark Truth & Kubur Surrealisme adalah karya yang memuat "kuburan" imajiner, tempat kenangan dan sejarah dimakamkan tetapi terus bergentayangan. Kekuatannya terletak pada pertemuan antara tradisi (seperti mantra dan danyang) dengan alienasi manusia modern.
Sumber: Mashuri. (2025). Dark Truth & Kubur Surrealisme. Probolinggo: Revolusi Kertas.