Resensi Buku Kumpulan Puisi Kangean karya Hidayat Raharja

Kumpulan puisi Kangean karya Hidayat Raharja merupakan mosaik liris yang menautkan alam, tubuh, dan tanah kelahiran dalam satu jalinan puitik yang utuh. Lahir dari rahim gugusan pulau di timur Kabupaten Sumenep, puisi-puisi dalam buku ini mencoba menumbuhkan kesadaran ekologis dan spiritual pembaca. Dalam pengantarnya, penyair menggambarkan Kangean sebagai “pulau yang memberi hidup sekaligus mengingatkan kepada akhir sebuah perjalanan”, menegaskan bahwa puisi di sini tumbuh dari tanah, air, dan pengalaman manusia yang berbaur dengan keduanya.

Puisi-puisi dalam buku ini menunjukkan keterpautan mendalam antara sains dan spiritualitas. Sebagai guru biologi, Hidayat Raharja membawa diksi ilmiah ke dalam medan imaji yang puitis. Dalam “Batang”, misalnya, ia menulis tentang pipa air dan mineral yang mengalir dari akar ke daun sebagai metafora perjalanan usia dan daya tahan hidup. “Kelengkeng” mengisahkan buah dan biji sebagai lambang waktu yang menyimpan ketulusan, sementara “Palm” dan “Terung” menampilkan siklus kehidupan yang sensual, penuh cahaya, dan bersenyawa dengan musim. Dari seluruh puisinya, alam bukan objek pandang, tetapi tubuh yang bernapas dan mengandung kesadaran.

Namun, Kangean bukan sekadar buku puisi tentang alam. Di dalamnya juga berdenyut kehidupan sosial dan sejarah tubuh manusia. Puisi “Etek Songkem” menyingkap kisah kuliner Madura yang berubah menjadi alegori penderitaan dan penebusan, sementara “Sate Lalat” memancarkan aroma getir tentang luka, kerja keras, dan tubuh politik yang terbakar oleh realitas. Melalui simbol-simbol keseharian—daging, rempah, api, dan aroma—penyair menafsirkan manusia sebagai bagian dari siklus konsumsi, pengorbanan, dan keberlangsungan hidup yang tak terelakkan.

Puisi utama “Kangean” menjadi puncak dari keseluruhan karya. Terdiri atas dua bagian, puisi ini memadukan riwayat laut, perempuan penenun, dan lelaki pelaut sebagai alegori keberlanjutan hidup di tengah badai dan kemarau. “Perempuan-perempuan menyulam haru dari benang harapan yang kian memanjang,” tulisnya, memperlihatkan bagaimana kerja, kesetiaan, dan ketabahan menjadi inti dari daya hidup manusia. Citraan bakau yang bertahan melawan maut dan kemarau menjadi sebuah simbol keteguhan yang mengakar di tanah meski digempur arus. Di sinilah Kangean mencapai bentuk paling utuhnya: puisi tentang pulau yang terus tumbuh di dalam diri manusia.

Gaya bahasa Hidayat Raharja ditandai oleh kepekaan detail dan kesadaran ekologis. Ia mengolah diksi ilmiah menjadi bahasa spiritual tanpa kehilangan keindahan. Larik-lariknya lembut, berlapis, dan kontemplatif, sering kali menghadirkan perpaduan antara tubuh dan kosmos, antara akar dan jiwa. Diksi seperti “biji hitam”, “lingkar daging musim”, atau “embun menyusu kabut” memperlihatkan kepiawaiannya menyublimkan pengetahuan biologis menjadi tafsir eksistensial. Dari sini, Hidayat Raharja tampak meneguhkan posisi sebagai “penyair biologis” yang menulis dengan kepekaan saintifik sekaligus religius.

Sebagai keseluruhan, Kangean adalah elegi yang menumbuhkan kehidupan. Ia menampilkan alam bukan sebagai lanskap diam, tetapi sebagai entitas yang menyimpan sejarah manusia, kesetiaan perempuan, dan keteguhan akar. Kelebihan utama buku ini terletak pada kesatuan tema dan kejujuran pengalaman, sementara kepadatannya menuntut pembacaan perlahan dan berulang. Di tangan Hidayat Raharja, puisi menjadi organisme yang tumbuh, menyerap cahaya kenyataan, dan memancarkan makna baru tentang keberadaan manusia di bumi yang terus berputar.


Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur