Resensi Kumpulan Cerpen Revolusi Nuklir Karya Eko Darmoko

Judul               : Revolusi Nuklir
Penulis            : Eko Darmoko
Tahun terbit    : 2021

Revolusi Nuklir merupakan kumpulan cerpen karya Eko Darmoko, prosais asal Surabaya yang akrab disapa Rudi. Cerpen–cerpennya telah banyak dimuat di media cetak nasional, seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos hingga portal-portal dalam jaringan. Buku ini mengambil judul dari salah satu cerpen di dalamnya, yang sekaligus menandai gagasan utama Eko Darmoko tentang bagaimana manusia menghadapi situasi keterbatasan dan krisis, khususnya dalam konteks pascapandemi, kelaparan, maupun kejenuhan sosial.Revolusi Nuklir tumbuh dari akumulasi berbagai kecemasan manusia ketika berada dalam situasi serba terbatas. Dengan kata lain, kumpulan cerpen ini merupakan sebuah lompatan imajinatif ke masa depan tentang bagaimana manusia bertahan di tengah ketidakpastian dan kebutuhan dasar yang terancam.

Terdiri atas 22 cerpen, buku ini dibangun dengan semangat untuk meruntuhkan batas antara fakta dan fiksi. Eko Darmoko menggabungkan realitas sosial dengan imajinasi fiksi. Kekuatan Revolusi Nuklir terletak pada kemampuannya menghadirkan realisme magis yang memadukan unsur klenik dan mistis Jawa dengan unsur fiksi ilmiah. Beberapa cerpen menggabungkan gambaran dunia futuristik, misalnya kehidupan manusia setelah perang nuklir dan wabah global, dengan elemen budaya lokal dan takhayul. Cerpen “Revolusi Nuklir”, sebagai contoh, menggambarkan tokoh manusia buatan hasil rekayasa genetika yang hidup abadi di dunia distopia. Cerpen “Silampukau” dituturkan dari sudut pandang seekor burung besi, sedangkan “Pohon Android” bercerita tentang dunia masa depan yang sudah tidak lagi dihuni manusia, melainkan dikuasai oleh monyet-monyet cerdas layaknya manusia akibat evolusi setelah jatuhnya meteorit. Selain itu, ada juga cerita terkait hal-hal yang dekat dengan keseharian, seperti keset, pohon, atau ritual yang dikreasikan menjadi narasi fantasi yang menarik, seakan menunjukkan bahwa dunia imajinatif dapat digali dari pengalaman sehari-hari.

Eko Darmoko tidak menggunakan fantasi sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai alat untuk mengeksplorasi realitas itu sendiri. Ia membuktikan bahwa fantasi tidak harus selalu berbicara tentang dunia asing, seperti Neverland, melainkan bisa lahir dari tradisi, benda, dan cerita keseharian masyarakat Indonesia. Cerpen unik lainnya berjudul “Ayam Kampus” yang mengisahkan  sisi gelap kampus dari perspektif yang tidak biasa, yakni dari perspektif sebuah keset yang bernama Welcome yang menyaksikan kegiatan asusila seorang mahasiswi yang berprofesi sebagai “ayam kampus.” 

Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan dalam kumpulan cerpen ini. Pertama, eksplorasi fantasi yang sangat dominan kadang tidak diimbangi dengan pendalaman karakter. Banyak cerita berfokus pada rangkaian peristiwa imajinatif, tetapisedikit menyentuh konflik batin atau kompleksitas psikologis tokohnya. Kedua, sebagian cerpen menggunakan diksi yang cukup vulgar atau bermuatan seksual sehingga kurang sesuai jika dibaca oleh pembaca remaja di bawah umur.  Selain itu, sejumlah cerpen menampilkan representasi perempuan yang cenderung negatif sehingga dapat menghadirkan kesan bias terhadap perempuan dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca.

Meskipun memiliki sejumlah kekurangan, Revolusi Nuklir tetap menjadi kumpulan cerpen yang layak diapresiasi karena mengeksplorasi imajinasi khas Indonesia yang jarang ditemukan dalam sastra kontemporer. Melalui campuran antara realitas sosial, sains fiksi, dan mistik Jawa, Eko Darmoko berhasil menghadirkan dunia-dunia alternatif yang menggugah pemikiran. Buku ini tetap layak dibaca karena menawarkan cara baru dalam memandang fantasi. 

Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur