Resensi Kumpulan Cerpen Sentimentalisme Calon Mayat karya Sony Karsono
Kumpulan cerpen Sentimentalisme Calon Mayat karya Sony Karsono membawa pembaca pada dunia sastra yang gelap, absurd, dan penuh anomali. Buku yang terbit perdana pada 2023 melalui penerbit Anagram ini menghimpun delapan cerita yang sebagian besar ditulis di masa Orde Baru. Sejak cerpen utama yang menjadi judul kumpulan ini, pembaca sudah diajak masuk ke dalam obsesi sang tokoh terhadap kematian dan mayat, fetish nekrofilia yang tak lazim, tetapi justru membuka pintu tafsir tentang hasrat manusia, keterasingan, dan kegagalan hidup. Atmosfer muram bercampur dengan humor getir, menjadikan bacaan ini tak sekadar kisah horor, melainkan juga sebuah pengalaman estetik yang mengguncang.
Cerita yang menjadi sorotan tentu “Sentimentalisme Calon Mayat.” Tokoh utama terobsesi pada maut sejak kematian sang ayah; ia betah berlama-lama di kuburan, bahkan mencuplik tanah makam untuk dicampur ke dalam kopi. Hasrat tokoh utama bergeser dari dunia yang “licik” menuju kematian yang dianggap paling setia; relasi rumah tangganya merapuh, libido manusiawinya pun macet. Narasi mengalun sebagai lamunan panjang yang sesekali dipapas realitas; dan pada klimaksnya, si tokoh menubruk bus. Pembaca hanya menyaksikan momen tokoh utama yang dengan sengaja menghadang bus itu sembari “melihat” maut menjelma penari striptis. Adegan kematian tak pernah benar-benar ditampilkan, menyisakan akhir yang menggantung dan antiheroik.
Dari situ, buku mengembangkan narasi tematiknya lewat ragam bentuk. “Meteorit” menghadirkan Djarot yang terjaga dalam bebatan kafan dan menyadari gundukan tanah yang diinjaknya adalah kuburnya sendiri, adegan yang dingin sekaligus satire, seolah komik zombie terseret ke kenyataan getir. “Sukra” mengajak pembaca ke dunia futuristik yang absurd: ada seksolog hologram, percakapan sibernetik, hingga adegan sadis penuh kekerasan. “Tirai” justru mengguncang sisi emosional dengan cerita seorang ayah yang dihantui patahan-patahan tubuh setelah melihat mayat anaknya di atas kompor tetangganya serta kampung yang ketagihan sensasi horor. Sebagai penutup, “Surabaya Johnny” menjadi ruang refleksi panjang yang memperlihatkan perlawanan terhadap bahasa formalistik dan militeristik Orde Baru.
Kekuatan utama kumpulan cerpen ini terletak pada eksperimen bahasa yang dijalankan Sony. Ia menolak pakem “puisi liris” Orba dengan menampilkan kalimat-kalimat brutal, sensual, dan sering kali menjijikkan, tetapi justru memikat. Frasa-frasa seperti “lonte lentur” atau “teler literer” menunjukkan permainan bahasa yang segar, provokatif, dan ciamik. Di balik keliaran bahasa itu, Sony juga rajin menyisipkan lapisan intertekstual dari Baudelaire, T.S. Eliot, hingga Afrizal Malna, menjadikan teks-teksnya kaya rujukan dan menuntut keterlibatan pembaca dalam penafsiran.
Cerpen-cerpen ini dapat dibaca sebagai kritik sosial-politik yang tajam. Obsesi pada kematian, tubuh, dan kekerasan bukanlah sekadar permainan imajinasi, melainkan metafora tentang represi rezim, represi bahasa, dan kegagalan reformasi. Dalam “Seikat Kembang Egois” misalnya, figur kakek bau tanah ditafsirkan sebagai metafora dari Orde Baru yang sekarat, menyebalkan, dan terus membebani. Dengan cara itu, Sentimentalisme Calon Mayat tak hanya mencatat kegilaan personal tokoh-tokohnya, tetapi juga merekam kegilaan sosial-politik Indonesia pada dekade penuh represi.
Kekurangan buku ini terletak pada sifatnya yang sangat absurd, gelap, dan penuh intertekstualitas sehingga bagi pembaca awam bisa terasa sulit dicerna. Cerpen-cerpen Sony kerap menjejalkan adegan aneh dan surreal yang menuntut kesabaran lebih, bahkan bisa membuat pembaca merasa terasing bila belum akrab dengan tradisi sastra eksperimental. Imaji yang liar dan tema yang berputar di sekitar kematian, seksualitas, dan kegilaan kadang lebih menyerupai pertunjukan bahasa ketimbang narasi yang mudah diikuti, sehingga menantang mereka yang terbiasa dengan alur cerita linear.
Sumber: Karsono. S. (2023). Sentimentalisme Calon Mayat. Jakarta: Penerbit Anagram.