Resensi Kumpulan Puisi Antariksa Infinitum Absurdum karya Nanda Alifya Rahmah
Kesan pertama ketika membuka Antariksa Infinitum Absurdum bukan terletak pada isi puisinya, melainkan cara buku ini berbicara lewat bentuknya. Setiap halaman disusun rapat, menyerupai jurnal pribadi, bukan kumpulan puisi konvensional. Puisi ini ditulis tanpa jeda bait yang tegas, tanpa kapitalisasi dan tanpa tanda titik yang membuat puisi ini terasa mengalir seperti catatan mimpi atau notula dari perjalanan kosmik.
Setiap puisi menyingkap bab kosmik yang berbeda. Tema besar buku ini adalah antariksa, tapi bukan kosmos dalam pengertian ilmiah. Ruang angkasa di tangan Nanda Alifya Rahmah adalah tubuh batin manusia: tempat kelahiran, kebingungan, cinta, dan kehancuran bercampur menjadi satu. Dalam “Tikus Menggerus Bintang,” seekor makhluk kecil mengunyah bintang, seolah menggambarkan manusia yang mencoba memahami sesuatu yang terlalu besar untuknya. Di “Macan Heliosentrik,” kekuatan dan cahaya matahari menjadi pusat orbit keberanian, sementara “Naga yang Mengembara ke Luar Mitologi” dan “Ular yang Melilit Sejarahnya Sendiri” memperlihatkan bagaimana makhluk-makhluk mitologis itu kehilangan rumahnya, keluar dari legenda, dan tersesat di ruang modern.
Semesta yang dibangun dalam buku ini bukan semesta yang utuh, melainkan semesta yang sedang bermimpi. Segalanya terjadi di antara sadar dan tidak sadar, di antara sains dan sihir. Pembaca seperti tersedot ke dalam dunia di mana gravitasi digantikan oleh kenangan. Bahkan benda-benda biasa—sapu, cermin, kain, abu rokok—bertransformasi menjadi medium kosmik yang membawa pesan. Dalam “Sapu dan Perjalanan ke Bulan,” misalnya, penyair menulis tentang perjalanan yang sederhana tetapi terasa monumental; keberangkatan dari kamar menuju bulan menjadi metafora tentang kehilangan dan kerinduan yang tidak bisa dijangkau oleh tangan. Sementara di “Rumah untuk Bulan,” puisi menjadi ruang tempat cinta, abu, dan cahaya berpadu. Di sana, penyair membangun rumah bagi sesuatu yang dingin dan jauh, seolah ingin menegaskan bahwa bahkan benda langit pun berhak memiliki tempat pulang.
Bahasa yang digunakan terasa lembut sekaligus mekanis seperti suara mesin yang melafalkan mantra. Kata-katanya padat oleh istilah fisika, tetapi setiap kata tetap bisa mengalir dengan apik dan romantik. Ia menulis tentang bintang dan helium, tetapi yang terasa adalah detak tubuh manusia. Puisi-puisi ini adalah percampuran antara observasi ilmiah dan lirisisme yang rapuh. Ada kalimat yang terasa seperti perhitungan, tapi berakhir sebagai doa.
Setiap halaman meninggalkan kesan seperti percakapan sunyi antara manusia dan semesta. Nanda Alifya Rahmah tidak sedang menjelaskan ruang angkasa, melainkan mengajukan pertanyaan tentang keberadaan manusia di dalamnya. Ia menulis seolah ingin tahu, adakah yang masih tersisa dari kita ketika semua gravitasi berhenti bekerja? Apakah cinta masih mungkin di tengah kehampaan?
Antariksa Infinitum Absurdum adalah buku yang tidak memberi jawaban. Ia hanya menghadirkan pengalaman membaca yang menyerupai melayang di antara planet—menyentuh cahaya, lalu kehilangan arah. Namun justru di situlah keindahannya. Buku ini menunjukkan bahwa absurditas bukan kebingungan, melainkan bentuk tertinggi dari kejujuran: ketika manusia mengakui bahwa ia terlalu kecil untuk memahami semesta, tetapi tetap berani menulis tentangnya. Buku ini bukan hanya kumpulan puisi, melainkan peta perasaan yang dilukis dengan debu bintang.