Resensi Kumpulan Puisi Jenggirat! Karya Tengsoe Tjahjono
Tanah Banyuwangi sering kali muncul sebagai wilayah yang masih kental dengan tradisi dan mitosnya. Melalui kumpulan puisi terbarunya yang berjudul Jenggirat!, Tengsoe Tjahjono tidak hanya menggambarkan bagaimana budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi, tetapi juga menjadikan latar budaya tersebut sebagai subjek yang bernapas, bergejolak, dan menolak tunduk di tengah gempuran zaman digital. Judul buku ini diambil dari puisi utama berjudul "Jenggirat!" yang secara semantik berarti sebuah kebangkitan yang dalam hal ini juga sebuah getaran eksistensial. Dalam Kumpulan puisi ini, berbagai tokoh sejarah seperti Menakjinggo, Mas Alit, dan Agung Wilis dibangkitkan dan diperlihatkan kembali "terjaga" di tengah realitas modern. Melalui diksi seperti "Akar-akar tua menggeliat, debu bangkit", Tengsoe mencoba menyampaikan bahwa masa lalu bukanlah fosil yang diam. Sebaliknya, ia adalah energi yang melesak kembali ke dalam nadi bumi dan kesadaran kita hari ini.
Kekuatan utama kumpulan puisi ini terletak pada apa yang disebut oleh Djoko Saryono dalam epilognya sebagai "puitika autoetnografis". Tengsoe membedah identitas dirinya dengan menggunakan tradisi komunal sebagai pisau bedahnya. Dalam puisi "Ritus Kebo", Tengsoe menghidupkan kembali suasana agraris yang magis. Ia memperlihatkan seratus lelaki bertubuh lumpur yang merayu kesuburan tanah, bau kemenyan dan doa-doa berkelindan dengan harapan petani untuk mengusir hama. Tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan wujud syukur dan perlawanan kolektif terhadap kegagalan panen. Begitu pula dalam "Tari Seblang Olehsari", Tengsoe menggambarkan penari yang kakinya menyentuh bumi untuk "mengalirkan darah ke akar-akar tua". Di sini, ritual adalah alat pemulihan bagi desa yang mulai melupakan tradisinya dan digantikan oleh modernitas yang direpresentasikan oleh "aspal dan beton".
Kumpulan puisi ini juga merekam adanya ketegangan antara akar tradisi dan tarikan modernitas kuat. Dalam puisi "Membaca Peta Banyuwangi yang Tersimpan di Saku Celana", Tengsoe secara jujur menggambarkan dirinya sebagai "Lare Osing yang tersesat". Ia merasa terbelah antara tapak kaki di atas lumpur sawah dan jari-jari yang menari di atas layar ponsel yang licin. Ada nada melankolis sekaligus kritis saat ia melihat bagaimana tarian Gandrung mulai terjepit dalam "detik-detik pixel" dan hiruk-pikuk konten viral yang menuntut likes. Identitas budaya di sini tidak lagi statis; ia sedang diuji oleh algoritma dan kabel-kabel internet.
Ironi dan kerinduan ini pun dibawa ke panggung global dalam puisi "Menonton Gandrung di Victoria Park Hongkong". Di tengah kerumunan merpati dan gedung-gedung pencakar langit, kibasan sampur dan suara gendhing Osing dari pengeras suara menjadi "tikaman sunyi" bagi sang penyair. Budaya asal bertransformasi menjadi oase bagi mereka yang terlempar jauh dari kampung halaman, memanggil kembali memori tentang bau tanah dan ombak di ceruk Alas Purwo.
Tengsoe juga menunjukkan bahwa puitika tidak hanya lahir dari ritual besar, tetapi juga dari hal-hal yang paling sederhana seperti kuliner. Melalui puisi "Filosofi Rujak Soto" dan "Pecel Rawon: Hidup Bersama dalam Piring", ia menjadikan makanan sebagai metafora harmoni kehidupan. Rujak soto digambarkan sebagai "cermin bagi setiap lidah", sebuah ruang tempat rasa pedas, asin, dan pahit petis berdansa tanpa ada yang berkuasa mutlak. Sementara itu, pecel rawon dipandang sebagai "sebuah kontradiksi" antara terang dan gelap, sebuah takdir piring yang membuktikan bahwa hal-hal yang tidak seharusnya bersama pun bisa bersenyawa dalam harmoni yang tak terduga. Penulis seolah ingin mengatakan bahwa hidup manusia pun serupa campuran rasa; penuh dengan tawa dan tangis yang harus diterima dalam satu suapan takdir.
Secara keseluruhan, Jenggirat! adalah sebuah upaya tulus untuk "memugar rumah budaya" yang mulai retak dimakan zaman. Tengsoe Tjahjono tidak hanya menulis puisi; ia sedang membangun benteng pertahanan bagi memori kolektifnya. Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya menjadi penonton pasif di atas tanah sendiri. Buku ini adalah seruan untuk "bangkit" (jenggirat) dengan mata elang yang menatap tajam ke depan, sambil tetap memastikan bahwa akar-akar tua di bawah kaki kita tidak pernah berhenti menyalurkan kehidupan.
Sumber: Tjahjono. T. (2025). Sekumpulan puisi: Jenggirat!. Sidoarjo: DELIMA.