Resensi Novela Buku Pegangan Mencari Kerja

Buku berjudul Buku Pegangan Mencari Kerjaadalah novela yang dengan sadar bergerak di wilayah absurditas, refleksi personal, dan satire sosial. Jangan tertipu dengan judulnya, buku ini tidak akan menyajikan kiat-kiat mencari kerja atau pun tips sukses mendapatkan pekerjaan. Alih-alih, buku ini malah bercerita tentang, seorang suami yang kebingungan mencari istrinya karena diculik Bajak Laut. Namun, novela ini tidak menyajikan kisah detektif yang berusaha menguak beragam teka-teki dan juga tidak memuat cerita heroik tentang suami yang menyelamatkan istrinya. Novela ini justru setia dengan judulnya, tentang seorang laki-laki pengangguran yang menemukan pekerjaan. Namun, pekerjaan itu tidak didapatkan lewat jalur pencarian kerja, melainkan melalui berbagai kejadian dalam hidup tokoh. 

Proses pencarian kerja diceritakan melalui jalur berkelok: kehilangan, kegagalan relasi, dan serangkaian kemungkinan yang tak pernah benar-benar ditutup dengan kepastian. Cerita dibuka oleh peristiwa yang secara terang-terangan absurd: Ovi, istri Tomi, dinyatakan diculik oleh gerombolan bajak laut di kolam renang umum. Dari titik ini, pembaca mungkin mengira akan memasuki novel detektif atau petualangan yang mengandalkan sebab-akibat yang rapi. Namun novela ini segera membelok. Penculikan itu tidak dikembangkan sebagai misteri yang harus dipecahkan, melainkan sebagai pemicu rangkaian renungan Tomi.

Melalui serangkaian proses merenung inilah alur bergerak maju dan mundur, masuk ke kilas balik masa PDKT Tomi dan Ovi. Episode-episode ini tidak berfungsi sebagai penjelasan sebab konflik, melainkan sebagai penyingkap karakter. Novela ini tidak pernah secara tegas menyatakan alasan Ovi pergi. Yang disajikan adalah kemungkinan-kemungkinan yang dirumuskan Tomi. Ia menyusun analisis-analisis panjang tentang dirinya sendiri, tentang obsesinya terhadap anjing, tentang relasinya dengan Ovi, dan tentang rasa rendah diri sebagai lelaki yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Dalam proses inilah Jo, sahabatnya, melihat sesuatu yang selama ini luput: Tomi adalah perumus kemungkinan yang baik, seorang pencerita yang mampu menguraikan skenario-skenario terburuk dengan tajam dan meyakinkan. Pada akhirnya, Jo menawarkan Tomi untuk bekerja di perusahaan yang sama dengannya sebagai seorang konsultan kemungkinan buruk.  

Akhir cerita tidak ditutup dengan rapi. Ovi tetap berada dalam wilayah ambigu, baik secara fisik maupun emosional. Satu-satunya yang berubah adalah Tomi. Ia tidak “menemukan” Ovi, tetapi menemukan sesuatu yang lain: pekerjaan. Ironi dalam hidup Tomi adalah kehilangan Ovi justru membuka jalan menuju kerja, dan ketika kerja akhirnya hadir, relasi yang hilang tidak perlu lagi dipulihkan. Melepaskan Ovi menjadi bagian dari proses menerima diri.

Hal yang membuat novela ini unik adalah proses kreatif dibaliknya. Dalam pengantarnya, Dadang Ari Murtono menjelaskan bahwa novela ini adalah hasil kolaborasi kreatif antara dirinya dengan AI. Namun, yang menarik adalah upaya penulis untuk melepaskan dirinya dari jeratan AI dengan cara membuang dan menulis cerita yang berkebalikan dengan yang ditulis AI. Upaya kreatif ini lah yang menghasilkan cerita yang sangat tidak konvensional dan tidak bisa ditebak. Sebagai novela, karya ini berhasil memadatkan persoalan besar seperti pengangguran, harga diri laki-laki, pernikahan tanpa anak, dan makna kerja menjadi kisah yang jenaka tapi getir.

Sumber: Murtono, D. A. (2024). Buku Pegangan Mencari Kerja. Yogyakarta: Indonesia Tera. 

Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur