SANDUR MANDURO
Kesenian Sandur Manduro merupakan salah satu kesenian tradisional khas dari Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Kesenian ini dikenal sebagai perpaduan unik antara budaya Jawa dan Madura yang tumbuh dari kehidupan masyarakat setempat. Sandur Manduro bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi melainkan juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Manduro yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pertunjukan ini menggabungkan berbagai unsur seni, seperti tari, musik, dan teater dalam satu pementasan yang menarik. Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga mengenal kembali sejarah serta dan nilai-nilai budaya yang hidup di lingkungan mereka.
Asal-usul Sandur Manduro berkaitan dengan migrasi masyarakat Madura yang datang dan menetap di wilayah perbukitan kapur Desa Manduro pada sekitar abad ke-18 hingga ke-19. Para pendatang tersebut membawa berbagai tradisi seni dari daerah asalnya, yang kemudian berbaur dengan budaya Jawa setempat. Dari proses pertemuan budaya inilah lahir Sandur Manduro sebagai bentuk kesenian baru yang mencerminkan akulturasi kedua budaya tersebut. Dalam pementasannya, kesenian ini menggunakan bahasa Madura dan menampilkan cerita-cerita yang beragam, mulai dari legenda kerajaan, kisah sejarah, hingga cerita kehidupan masyarakat sehari-hari yang sarat dengan pesan moral.
Pertunjukan Sandur Manduro biasanya diiringi oleh alat musik sederhana berbahan bambu, seperti kendang, trompet bambu, dan gong tiup yang menciptakan irama khas. Para pemain mengenakan topeng dan kostum tertentu untuk menggambarkan karakter dalam cerita, seperti pahlawan, tokoh masyarakat, hingga tokoh hewan atau makhluk mitologis. Selain itu, dialog yang disampaikan dalam bahasa Madura sering diselipi humor sehingga membuat pertunjukan terasa hidup dan dekat dengan penonton. Melalui perpaduan musik, tari, topeng, dan cerita tersebut, Sandur Manduro menjadi salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang unik sekaligus sarana pelestarian budaya lokal masyarakat Jombang.
Sumber: agussiswoyo.com
Foto: majalahsuarapendidikan.com