Tradisi Lisan dalam Ritual Labuh Nyingkal

Saat musim tanam tiba, masyarakat Using melaksanakan ritual-ritual sesuai dengan tahapan bercocok tanam. Sebelum membajak sawah, masyarakat Using melaksanakan ritual Labuh Nyingkal. Nyingkal berasal dari kata  singkal yang berarti ‘membajak.’ Ritual ini dilakukan  untuk memuaskan roh-roh setempat agar tidak mengganggu proses bercocok tanam.

Di pagi hari, sesaji disiapkan di pinggir sawah. Sesaji tersebut meliputi jenang abang, tumpeng sego wuduk berisi ayam yang ditanam di dalamnya, tumpeng pecel pitik, dan sego golong. Setelah doa keselamatan dipanjatkan, ayam yang telah dibumbui dikeluarkan dari tumpukan nasi, disuwir, dan dimakan bersama kuah lembarang. Semua dilakukan dengan penuh khidmat, disertai harapan agar sawah memberi hasil yang baik.

Singkal dapat dilakukan dengan alat singkal dan dua ekor sapi. Selain itu, singkal juga dapat dilakukan secara manual menggunakan cangkul. Ketika membajak sawah dengan alat, para petani mulai dengan mengucapkan mantra yang diwariskan turun-temurun.

“Ana santri ngelana gawene perang sak tengahe rawa,

bebatange tumpang tindih,

sepuluh iku sikile,

kang kiwa nyekel senjata kang tengen nyekel cemeti,

prajurite pada seneng gelung supit urang.”

Mantra tersebut menggambarkan petani sebagai prajurit di medan rawa, tangan kirinya memegang bajak, tangan kanannya mencambuk sapi, dan sapi di depannya menjadi rekan seperjuangan. Sepuluh kaki yang dimaksud adalah 8 kaki dari 2 ekor sapi dan 2 kaki milik petani. Ada pula mantra lain yang dibaca ketika singkal dilakukan secara manual menggunakan cangkul.

“Bapa toya ibu bumi,

anak putu adam dina njaluk pangan nyang rika,

mula aja kaget sun kebah gegeriro,

arep sun tanjepi pari kanggo nyambung urip,

supaya kecukupan sandhang pangan insun.”

Dengan mantra itu, petani memohon berkah pada bumi dan air agar tanamannya tumbuh subur. Seusai mengucap doa, petani mencangkul tiga kali, lalu sesaji ditaruh di tepi sawah. Ritual Labuh Nyingkal melambangkan penghormatan masyarakat Using kepada bumi dan roh penjaga sawah sebelum memulai masa tanam. Melalui sesaji dan mantra, petani memohon keselamatan serta kesuburan tanah. Setiap gerak dan doa mencerminkan keyakinan bahwa hasil panen yang baik lahir dari kerja keras yang disertai doa dan keseimbangan antara manusia dan alam. Ritual ini merupakan simbol rasa hormat kepada alam yang menjadi sumber kehidupan.

Share this Post

Selamat datang di laman resmi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur