Tradisi Pangkak di Pulau Kangean
Upacara adat Pangkak digelar oleh warga Desa Kalikatak di Pulau Kangean sebagai ungkapan syukur setelah panen padi. Setiap keluarga turun ke sawah membawa hasil bumi dan perlengkapan ritual. Mereka berkumpul di satu lokasi yang telah disepakati. Sejak pagi, tetua desa bergerak memimpin jalannya prosesi, sementara warga mengikuti arahan dengan penuh kebersamaan. Bagi mereka, Pangkak bukan sekadar tradisi, tetapi momen untuk memastikan panen di tahun mendatang tetap diberkahi hasil yang melimpah.
Upacara biasanya dilaksanakan secara berkelompok oleh warga di satu desa dan terkadang oleh gabungan beberapa desa. Tetua desa berperan sebagai ketua penyelenggara tradisi ini. Para pemilik sawah menjadi penyelenggara dan pelaku utama di lapangan. Sementara itu, ada pawang pangkak yang bertugas untuk memimpin jalannya upacara. Pawang pangkak mendendangkan lagu dan membacakan syair/mantra pada saat upacara berlangsung. Laki-laki dan perempuan dewasa yang mengikuti upacara bertugas sebagai pengangkut dan penumbuk padi. Sementara itu, remaja putra dan putri bertugas sebagai pembawa sajian dan penari.
Pada saat upacara, warga menyiapkan sesaji dan menyusun hasil pertanian, seperti padi, jagung, ketela, kacang, serta bahan makanan lain yang menjadi simbol rasa syukur. Ketika perlengkapan sudah siap, pawang pangkak memulai acara dengan memberi aba-aba kepada seluruh peserta. Suasana berubah menjadi lebih hidup ketika para pemusik memainkan alat musik tradisional. Saronen dan Kennong Tellu’ mengiringi rangkaian acara. Ronjangan, alat untuk menumbuk padi, dimainkan oleh beberapa orang secara bergantian, menghasilkan irama yang saling menyambung. Musik-musik ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menandai awal penyampaian rasa syukur kepada Yang Mahakuasa.
Jika penyelenggara upacara berbesanan, suasana menjadi jauh lebih meriah. Sawah yang biasanya sepi berubah menjadi tempat berkumpulnya warga dari berbagai penjuru desa. Di pematang yang luas, sesaji ditata rapi. Para undangan hadir berkelompok, membentuk lingkaran besar, kemudian berjalan perlahan searah jarum jam.
Acara puncak yang dinantikan adalah atraksi pangkak. Para pemusik memainkan irama yang lebih cepat. Para penari mulai memasuki lingkaran, menari sambil mengikuti ketukan musik. Seorang sesepuh yang ditunjuk sebagai ketua akan melantunkan syair-syair Madura. Suaranya menggema di antara irama musik, menciptakan suasana yang hangat dan menyentuh. Berikut syair yang biasa dibawakan.
Akadi omba’ gulina padi
Masa arangga’ terbi’ padi
Togur reng tani lebur eoladi
E masa reng tani arangga’ padi
Gumbhira kejung sambi’ atandhang
Ka’dissa’ oreng lake’ nabbu gendang
Tal-ontalan palotan sambi’ atandhang
Tanda nyare judu ate lodang
Di tengah kemeriahan itu, para muda-mudi memanfaatkan momen untuk mencari pasangan. Mereka saling memperhatikan, menunggu kesempatan untuk menunjukkan ketertarikan. Bila seorang pemuda menaruh hati pada seorang gadis, ia akan melemparkan ketan ke arah gadis itu. Lemparan tersebut menjadi tanda ketertarikan yang dipahami oleh semua yang hadir. Jika sang gadis membalas lemparan, kerumunan akan segera bersorak karena keduanya dianggap saling menyukai. Tradisi ini berlangsung terbuka dan menjadi bagian yang paling ditunggu oleh para generasi muda.
Setelah rangkaian upacara utama berakhir, seluruh peserta berjalan bersama menuju lumbung desa. Di tempat itu, setiap keluarga menyumbangkan sebagian dari hasil panen mereka. Sumbangan tersebut disalurkan kepada warga yang kurang mampu. Ini menjadi bentuk solidaritas dan kepedulian yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Pangkak bukan hanya sekadar ritual syukur, melainkan ruang bagi warga untuk mempererat hubungan, merayakan kerja keras mereka, dan menegaskan komitmen terhadap nilai kebersamaan. Tradisi turun-temurun ini terus dipertahankan sebagai warisan yang menyatukan komunitas, menghubungkan generasi, dan menjaga identitas budaya mereka.