Ulasan Kumpulan Puisi Gandrung Asmaragama karya S Yoga
Identitas Buku:
Judul Buku : Gandrung Asmaragama
Penulis : S Yoga
Penerbit : Pagan Press
Tahun Terbit : 2021
Kumpulan puisi Gandrung Asmaragama karya S Yoga menawarkan perjalanan puitik yang kaya—mengalir dari laut menuju tubuh, dari mitologi ke ingatan, dari ritual budaya menuju kesunyian batin. Banyak puisi dalam buku ini berporos pada laut: “Altar Laut,” “Rajungan,” “Apa Yang Masih Tersisa,” hingga “Pencari Matahari.” Laut bukan sekadar latar, tetapi identitas emosional. Gelombang, asin garam, palung, ombak binal—semuanya menjadi metafora bagi luka lampau, perjuangan, dan pencarian jati diri. Pada beberapa puisi, laut menjadi penanda kelahiran; pada yang lain, laut adalah kuburan sunyi. Atmosfer laut ini konsisten, menciptakan dunia puitik yang lembut tapi penuh guncangan kecil.
Tema besar lain yang menonjol adalah perjalanan batin. Banyak tokoh dalam puisi yang tampak seperti pengelana yang tak pernah benar-benar menemukan rumah. Kesunyian bukan digambarkan sebagai kehampaan, melainkan sebagai keadaan yang harus ditempuh untuk memahami diri sendiri. Dalam “Suara”, misalnya, gema yang samar menjadi medium untuk membaca kembali luka dan harapan, sedangkan “Ada Kota dalam Tubuhmu” menggambarkan tubuh manusia sebagai tempat-tempat yang menyimpan lampion, jejak kota, dan sejarah. S Yoga mahir menenun citraan konkret (lampu, lembah, malam, kabut) menjadi perasaan abstrak (kerinduan, ketakpastian, kehilangan), sehingga puisinya mudah dipahami pembaca tapi tetap punya kedalaman.
S Yoga tidak hanya menulis tentang laut dan lara, tetapi juga merayakan kekayaan budaya lokal Jawa Timur dan Madura—Ngawi, Sumenep, Surabaya. Salah satunya adalah puisinya yang berjudul “Gandrung.” Gandrung bukan hanya pertunjukan, tetapi juga metafora hubungan manusia dengan kekuatan gaib, dengan tanah asal, dan dengan keinginan-keinginan terdalam yang sering tersembunyi di balik ritual.
Kekuatan utama Gandrung Asmaragama terletak pada atmosfernya yang sangat konsisten, penggunaan imaji alam dan budaya yang kuat, serta kemampuan S Yoga menggabungkan pengalaman batin dengan kekayaan tradisi lokal secara halus dan indah. Meski demikian, nada (tone) yang cenderung seragam dari awal hingga akhir membuat beberapa puisi terasa bergerak dalam suasana yang sama sehingga bisa menimbulkan kesan monokromatis, terutama bagi pembaca yang menginginkan variasi emosi atau bentuk.
Sumber: Yoga, S. (2021). Gandrung Asmaragama. Lamongan: Pagan Press.